Pernikahan Berarti Memberi…
Lebih dari apa yang pernah dilakukan oleh seorang manusia mana pun, Yesus Kristus
telah memberikan contoh yang baik dari kasih Allah dan Ia telah melakukannya dalam
banyak cara yang berbeda. Sedangkan salah satu dari cara terbesar dan sangat nyata yang
Ia lakukan adalah bahwa Ia memberikan hidupNya dengan bersungguh – sungguh dan
mencurahkan darahNya untuk menjadi sang Juru Selamat kita.
Seperti yang telah kita lihat bahwa hubungan antara Kristus dan Jemaat yang
benar sesungguhnya menggambarkan hubungan antara suami dan istri. Setelah melalui
suatu hidup yang memberi dan melayani, diakhir hidupNya Yesus Kristus bahkan
memberikan diriNya sendiri bagi Jemaat. Dan karenanya maka seluruh suami
diperintahkan: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi
jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia
menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian
Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut
atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami
harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya
mengasihi dirinya sendiri.” (Efesus 5:25-28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Biasanya, masing – masing dari kita secara alami akan berpikir tentang kebutuhan
masing – masing. Kita sering memikirkan keinginan kita sendiri untuk memenuhi apa
yang menyenangkan diri kita. Tetapi semenjak Allah telah membuat kita sebagai “satu
daging” di dalam pernikahan, kita butuh belajar untuk berpikir dengan cara yang telah
Allah berikan, yaitu dengan secara konstan mempertimbangkan kebutuhan – kebutuhan
dan keinginan – keinginan dari pasangan kita dan bagaimanakah memelihara “separuh
dari bagian diri” kita tersebut! Hal ini mencakup berpikir, berencana dan berdisiplin diri.
Hal ini juga termasuk MEMBERIKAN diri sendiri kepada manusia lain. Dan hal ini
adalah arti sesungguhnya dari pernikahan tersebut!
Salah satu dari perkataan Yesus Kristus yang paling penting tidaklah terdapat di
dalam keempat Injil rasul Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, tetapi di dalam
pernyataan rasul Paulus yang ditulis di dalam Kisah Para Rasul: “Dalam segala sesuatu
telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus
membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab
Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”
(Kisah Para Rasul 20:35 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Di dalam pernikahan,
adalah lebih “diberkati” untuk memberi karena di dalam banyak kasus “lebih banyak
anda memberi lebih banyak anda mendapat.” Seperti anda benar – benar berusaha untuk
mendorong, untuk melayani, dan untuk memberi, maka anda akan menemukan bahwa pasangan anda akan cenderung membalas. Anda berdua haruslah saling memberi dan
melayani sehingga anda berdua akan disenangkan dan bahkan digembirkan dengan apa
yang diciptakan oleh jaringan kehangatan dan penghargaan ini.
Setiap suami haruslah dengan berhati – hati berpikir tentang bagaimanakah ia
dapat meningkatkan kesenangan dan kepenuhan hidup istrinya. Mungkin ia akan dapat
membantunya dengan cara membantu mencuci piring dan melakukan pekerjaan rumah
pada beberapa kesempatan. Mungkin dialah yang harus bertanggung jawab untuk
menyelesaikan pekerjaan rumah yang cukup berat seperti mengangkat benda – benda
yang berat. Mungkin ia juga dapat memberikan istrinya lebih banyak waktu untuk
beristirahat tidur, lebih banyak berlatih, lebih banyak berekreasi atau berganti irama
kehidupan. Jika keluarga dapat memperoleh hal ini, mungkin seorang suami dapat
mengajak sang istri keluar untuk makan malam satu atau dua kali seminggu, atau sekali
– sekali mengadakan perjalanan “bulan madu” untuk membawa istrinya keluar dari
pekerjaan dan rutinitas hidup sehari – hari. Tentu saja ia dapat memperkaya kehidupan
istrinya dan kehidupannya dengan membawa sang istri ke sebuah konser, museum seni,
kuliah pendidikan dan tempat – tempat berkesan lainnya. Jadi hendaklah seorang suami
mencari cara yang tepat untuk “memberi” istrinya.
Sebaliknya, seorang istri harus juga sering berpikir tentang bagaimanakah ia dapat
memperkaya kebahagiaan suaminya dan keadaan kehidupan jasmani, emosi dan
intelektual suaminya. Mungkin seorang istri dapat tidur sejenak di siang hari atau setelah
datang dari kerja, atau mandi sejenak dan berganti pakaian sehingga dia kelihatan dan
merasa segar dan cantik di setiap sore hari sama seperti yang ia lakukan ketika ia masih
berpacaran dengan suaminya. Ia dapat mendorong suaminya untuk membagikan pendapat
– pendapatnya tentang hal – hal yang sedang terjadi atau tentang – tentang hal – hal
rohani. Di dalam banyak cara sesungguhnya seorang istri dapat menanggapi dengan baik
ketertarikan suaminya, dan berusaha membuatnya merasa “berbahagia/bangga” atas
kemampuan dan dirinya dan benar – benar merasa berbahagia karena telah menikahi
seorang istri yang sangat mencintainya.
Anda mungkin pernah mendengar bahwa pernikahan haruslah mencapai proporsi
50-50/fifty-fifty dimana anda melakukan setengah jalan dan pasangan anda melakukan
yang setengahnya. Tetapi siapakah yang akan melakukan setengah jalan lagi jika anda
tidak setuju dengan pasangan anda? Jawabannya adalah cinta sejati, yang mana hal ini
berarti memberikan tanpa mengharapkan apapun sebagai balasan – memberi secara
seratus persen dan tidak mengharapkan suatu balasan yang anda “harapkan” untuk
didapat.
Kristus berbicara tentang prinsip ini dengan mengatakan bahwa kita hendaklah
berjalan lebih jauh ketika Ia mengatakan: “Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan
sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:41 Alkitab
Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ya, bahkan jika anda secara manusiawi tidak merasa
senang untuk melakukannya, jalanlah lebih jauh dan lakukanlah hal tersebut bagi
pasangan anda. Allah akan menambahkan apa yang anda rasa kurang di dalam diri anda.
Mintalah kepada Allah untuk membantu anda memberi perhatian, cinta dan rasa hormat
yang lebih kepada pasangan anda dan dengan berjalannya waktu anda akan diberkati
dengan upah dan keuntungan dari keadaan pernikahan yang membaik.
Jadi pikirkanlah tentang jalan/cara apakah yang apakah yang dapat anda
berikan kepada pasangan anda. Beberapa hadiah atau kata – kata penghargaan yang tidakterlalu bertele – tele akan membuat keadaan berbeda. Suatu pelukan atau ciuman yang
spontan yang hanya membutuhkan suatu usaha kecil dari anda dapat memiliki arti
sebagai pemberian yang sangat besar di mata pasangan anda. Suatu pertanyaan
sederhana: “bagaimana harimu?” yang anda ajukan dapat menjadi suatu pemberian
selamat datang yang menandakan perhatian anda kepada pasangan anda, juga
memberikan suatu kesempatan untuk berbagi pikiran dan perasaan yang pribadi.
Saya mengetahui sepasang suami istri yang sibuk tetapi yang bagaimana pun juga
masih menyempatkan waktu untuk saling menunjukkan cinta dan perhatian kepada
masing – masingnya. Di suatu sore, sementara sang istri sedang mempersiapkan makan
malam, ia bertanya kepada suaminya: “Apa ada yang lain yang engkau perlukan?”
Suaminya tersenyum dan berkata: “Saya butuh cintamu”. Ia tersenyum, mendorong kursi
sehingga akhirnya sang istrinya jatuh dipangkuannya. Kemudian mereka berpelukan dan
berciuman. Inilah spontanitas yang indah, keinginan untuk saling memberi satu dengan
lainnya, dan membantu untuk menciptakan situasi cinta dan damai.
Memang tidak perlu selalu menekankan keromantisan dan keidealisan, tetapi yang
harus diketahui adalah bahwa siang dan malam, tahun demi tahun, pasangan yang
berbahagia akan berjuang untuk saling “memberi” antara satu dengan lainnya. Masing –
masingnya akan berusaha untuk membantu pasangannya mencapai potensinya sebagai
manusia secara penuh seperti yang diinginkan oleh Allah di dalam cara apapun untuk
memungkinnya terjadi. Karena kita tidak akan “memiliki“ sebuah pernikahan yang
berbahagia jikalau kita tidak belajar untuk memberi/menciptakan sebuah pernikahan yang
berbahagia!
All the best,
